Juga Menerima Kelas Karyawan dan Transfer

Sabtu, 23 Juli 2011

TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI

Apa sebenarnya Tridharma Perguruan Tinggi?

Dekade awal di abad-21, essensi tridharma PT, masih mendapat tempat yang teduh di dalam “gerbong-gerbong” PT di Indonesia. Pemerintah sebagai lokomotif - dengan M. Nuh sebagai masinisnya - terbukti stabil melintasi rel pendidikan nasional. Selanjutnya rangkaian “gerbong” PT akan memasukli stasiun intelektualitas global. Lalu bagaimana essensi tridharma PT mampu menjadi “amunisi” menghadapi gempuran percaturan intelektualitas global? Siapkah SDM hasil “cetakan” PT nasional melakukan action? PT dan komponennya - termasuk mahasiswa, dosen, ilmuan, dan pemerintah - adalah jawabannya. Generasi muda bangsa adalah essensi objektif dari tridharma PT.

Dimulia dari tujuan pendidikan berdasarkan PP No. 60 tahun 1999 tentang PT pasal 1. Tujuan pendidikan yang pertama adalah menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian. Kedua, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian serta mengupayahkan penggunaannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Tridharma perguruan tinggi (PT) memiliki tiga mata rantai. Pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Menurut Perkins, 1986, menjelaskan bahwa tridharma PT mengacu pada tiga aspek pendidikan - yang cenderung memasuki wilayah pendidikan dan pengajaran. Tiga aspek tersebut adalah aquicition (penggalian), transmission (pemindahan), dan application (penerapan). Ketiganya akan memiliki ketergantungan dan keterkaitan yang melengkapi.

PT sebagai multiversitas memang menjadiwarehouse pendidikan yang didalamnya hidup masyarakat akademisi dan non akademisi. Di dalamnya bisa kita temukan mahasiswa, ilmuan, professional, non-akademis dan administrator. Selain itu, di dalamwarehouse pendidikan juga berisikan corak dan “belang” kegiatan akademis. Dimulai dari pengajaran, memajukan pengetahuan, mengembangkan metode penelitian, memperluas kesadaran berbangsa, pengabdian kepada masyarakat. Mungkin masyarakat akademik dan non-akademik dewasa ini, dengan kegiatan di atas, belum semuanya bersinergi dengan baik. Prof. H. A. R. Tilaar menyodorkan “manifesto pendidikan nasional” untuk kembali melahirkan asas Tut Wuri Handayani. Dr. Willy Toisuta mengatakan bahwa kekacauan manajemen pendidikan nasional dewasa ini disebabkan pemerintah yang tidak mempunyai platform pendidikan nasional. Hal ini bisa jadi karena minimnya kesinambungan - juga evaluasi - dari kebijakan-kebijakan yang ada. Pejabat baru berarti kebijakan yang baru.

Tri darma adalah kewajiban setiap perguruan tinggi. Keterkaitan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat adalah proses membaca, guna mengukir peradaban. Sudahkah kita menyadarinya? Gelar “mahasiswa” adalah penghargaan tertinggi bagi mereka untuk mulai mengukir karya dan prestasi. Suasana kebebasan akademik mulai didengungkan sebagai makna dari sebuah gelar. Lalu apa arti dari sesosok mahasiswa?

Menjadi mahasiswa bukan sekadar kenaikan tingkat dari siswa menjadi maha, melainkan pembentukan sikap, karakter, dan mental menjadi dewasa. Kata Mahasiswa dibentuk dari dua kata dasar yaitu “maha” dan “siswa”. Maha berarti besar atau agung, sedangkan siswa berarti orang yang sedang belajar. Kombinasi dua kata ini menunjuk pada suatu kelebihan tertentu bagi penyandangnya. Di dalam PP No. 30 Tentang Pendidikan Tinggi disebutkan bahwa mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi tertentu (Bab I ps.1 [6]), yaitu lembaga pendidikan yang bertujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan / atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian (Bab II ps. 1 [1]). Dengan demikian, mahasiswa adalah anggota dari suatu masyarakat tertentu yang merupakan “elit” intelektual dengan tanggung-jawab terhadap ilmu dan masyarakat yang melekat pada dirinya, sesuai dengan “TRI DHARMA” lembaga tempat ia bernaung.

Kata orang, mahasiswa didefinisikan sebagai pelajar yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Unsur diferensia dari definisi ini terletak pada jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Jikapun ada pembeda yang lain pun hanya pada tugas-tugas pelajaran atau mata kuliah yang lebih banyak dari pada ketika di sekolah dasar atau menengah dan satu lagi yakni kebebasan yang dimiliki olehnya. Kebebasan ini mendorong lahirnya budaya instan dikampus. Budaya instan, pengumbar hasrat (terutama instanisasi proses pembelajaran) mengesampingkan penalaran dan pemaknaan yang dalam. Berbagai macam teori yang didapatkan didalam perkuliahan hanya diresap tanpa dapat direfleksikan, dimaknai dan disikapi. Pemaknaan itupun dilakukan hanya ketika mendapatkan intruksi dari dosen, tugas misalnya. Jadi, teori-teori yang didapat hanyalah pengetahuan an sich, bahkan mahasiswa lebih mudah didisiplinkan (misalnya oleh senior, dosen, kebijakan, dll).

Definisi mahasiswa harus diubah atau didefinisikan kembali (re-definisi). Mahasiswa haruslah didefinisikan sebagai pelajar yang menempuh pendidikan perguruan tinggi dan memiliki kesadaran. Kesadaran disini sangatlah penting, kesadaran disini ditempatkan sebagai bagaimana mahasiswa memperlakukan obyek yang telah dipahami selama menempuh pendidikan, terlebih untuk senjata atau alat pergerakan mahasiswa dalam tatanan masyarakat sosial. Mahasiswa harus diberikan pengertian dalam menyikapi segala sesuatu atas dasar solidaritas sesama mahasiswa, penghormatan pada senior yang kharismatis-feodalistik, dan keterpanggilan emosional yang kaya akan bingkai rasionalitas.

Jika hendak membahas mengenai urgensi Mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi maka yang akan timbul dalam pikiran ialah mengenai kondisi-kondisi yang membuat Tri Dharma memiliki arti penting untuk diwujudkan. Jadi perlu di rumuskan terlebih dahulu tujuan atau harapan dan apa saja yang terjadi di lingkungan dunia mahasiswa. Berbagai permasalahan yang “menjangkit” mahasiswa seperti; pemuasan hasrat yang penuh kedangkalan, fetisisme nilai; dalam ranah dunia mahasiswa, mahasiswa lebih mementingkan kepentingan pribadi dibandingkan proses pengambilan keputusan, mitos gerakan; dalam bidang budaya kampus, mahasiswa terjerembab kedalam berbagai gaya yang miskin makna dan dilain pihak sibuk dalam mencari pengetahuan, nilai dan tak mampu lagi melakukan kritik, refleksi dan penyikapan atas semuanya dan ketidak terhubungan antara perjuangan dan gaya hidupnya harus segera di evaluasi jika tri dharma perguruan tinggi ingin tetap tegak di kampus kita. Mahasiswa yang merupakan bagian dari lingkungan kampus atau perguruan tinggi memiliki tugas yang cukup berat, yakni mewujudkan tri dharma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian dan pelayanan atau pengabdian pada masyarakat).

Tri dharma perguruan tinggi tidak akan mungkin terwujudkan jika unsur-unsur dehumanisasi atau permasalahan yang telah disebutkan diatas tetap menjangkit mahasiswanya (dalam scope kecil) dan seluruh unsur didalamnya (dalam scope luas). Jadi, kegiatan pembelajaran (sebagai proses) memiliki tugas atau tujuan sebagai proses humanisasi atau pemanusiaan dengan cara transformasi nilai-nilai agar tri dharma perguruan tinggi dapat terwujud. Pemanusiaan manusia disini dimaksudkan sebagai sebuah proses pentransformasian nilai-nilai yang membuat manusia (dalam hal ini mahasiswa) agar mampu meningkatkan potensi yang dimilikinya(spiritual, intelektual dan moral). Jadi dengan sendirinya, dalam pembelajaran harus terdapat sebuah persiapan mahasiswa agar mampu beradaptasi dan berintegrasi melalui konsientisasi (Proses dimana manusia mendapatkan kesadaran yang terus semakin mendalam tentang realitas kultural yang melingkupi hidupnya dan akan kemampuannya untuk merubah realitas itu) dalam ranah pembebasan manusia (maksudnya ialah pembebasan dari dehumanisasi, dalam hal ini pendidikan), penelitian(berfikir ilmiah) dan pengabdian pada masyarakat.

Kehidupan dunia sekarang ini semakin mengarahkan manusia untuk memenuhi hasratnya tanpa batas, tak terkecuali dunia mahasiswa. Mahasiswa begitu banyak mendapat tawaran untuk memenuhi hasrat yang hadir dan berganti begitu cepat, baik yang berupa materi kongkrit ataupun hanya sesuatu berupa imajinasi yang dapat memenuhi kepuasan batin manusia dan tanpa kedalaman makna. Konser musik lebih ramai dibandingkan dengan pengkajian atau forum diskusi. Fetisisme pun menjangkit paradigma dunia mahasiswanya, mereka berlomba-lomba mendapatkan nilai bagus tanpa mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan pengaplikasian nilai-nilai itu dalam lingkunganya, seminar-seminar ramai dikunjungi hanya untuk mendapatkan sertifikat. Tak tertinggal pula paradigma itu juga merengguh ranah organisasi mahasiswa sebagai tembok terakhir pembentuk mahasiswa berkarakter yang mengerti akan apa peran, fungsi dan posisinya.

Budaya instan organisasi mahasiswa telah menciptakan ruang-ruang publik organisasi yang dipenuhi oleh segala sesuatu yang bersifat permukaan, dangkal yang tidak konstruktif bagi pendidikan organisasi kemahasiswaan. Pengembangan dunia organisasi kemahasiswaan sekarang hanya mengandalkan kuantitas bukan kualitas. Aktifitas organisasi mahasiswa pun terpaku kepada metode yang laiknya panggung pertunjukkan, tanpa dilihat atau direfleksikan efektif ataupun tidaknya. Budaya di kampus pun seolah-olah mendukung kondisi-kondisi tersebut. Ruang-ruang kampus tidak ubahnya shop display. Disatu sisi mahasiswa didalamnya lebih senang menampilkan gaya bicara, gaya pakaian, gaya handphone ketimbang mengejar pengetahuan dan mengaplikasikannya.

Sedangkan di pihak lain, tenggelam dalam mengejar tugas, nilai, dan kelulusan, tetapi tidak punya waktu dan keinginan untuk bersosialisasi dan bergaul di dalam kehidupan nyata sosial kampus, organisasi kampus atau bahkan spiritual. Mahasiswa yang seharusnya memperjuangkan nasib rakyat dan pendidikan pun hanya menjadi penanda tanpa refleksi. Lingkungan mahasiswa tidak ubahnya sebuah tempat isolasi, tempat untuk mencari nilai, gelar, kelulusan, kepuasaan, keterpesonaan dan kesenangan, dan tidak punya waktu lagi untuk mengembangkan aspek-aspek kemanusiaan lainnya: intelektualitas, produktivitas, sosialitas. Entah disadari atau tidak oleh pelakunya di dalam mengonsumsi pengetahuan dan berbagai gaya hidup, ia menjadi mayoritas yang diam (the silent majorities), yang hanya dapat menyerap segala sesuatu, tanpa mampu menginternalisasikan dan memaknainya.

“Mempersiapkan mahasiswa dalam mewujudkan tri dharma perguruan tinggi, dalam kegiatan pembelajaran diperlukan sebuah kegiatan yang mencerminkan tri dharma perguruan tinggi. Konsekuensinya ialah dalam pembelajaran harus terdapat berbagai metode yang mampu merepresentasikan unsur-unsur tri dharma PT".

Kuliah di Perguruan Tinggi adalah wahana membentuk kematangan berpikir, dimana berpatokan kepada tiga hal intelektual, emosional, dan spiritual. Kematangan intelektual diterjemahkan melalui berpikir sistemik, terstruktur dalam menelaah keilmuan. Kematangan emosional diaplikasikan melalui berpikir situasional, baik terhadap individu maupun sosial. Kematangan spiritual bermakna seseorang mampu menerjemahkan makna dan nilai atas semesta raya ini. Proses menuju kematangan berpikir disertai pemaknaan darma secara mendalam. Apa hakikat darma bagi kehidupan kampus?

Darma bagi kehidupan kampus adalah kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai perguruan tinggi. Dalam UU sisdiknas pasal 20 ayat 3 menerangkan bahwa kewajiban perguruan tinggi terdiri dari tiga hal yaitu: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tiga kewajiban ini terkenal dengan nama Tri Darma perguruan tinggi. Apa makna tri darma perguruan tinggi? Dan sudahkah berjalan di kampus STIE DHARMA ISWARA MADIUN?

Darma yang pertama adalah pendidikan. Perguruan Tinggi bukan hanya wahana transfer ilmu pengetahuan akan tetapi bertujuan membentuk manusia yang intelektual, bermoral, berbudaya, serta berkepribadian dewasa. Elemen birokrat dan dosen harus mampu menyadari dan menginterpretasikan hakikat mendidik dan mengarahkan peserta didik. Mahasiswa harus menyadari dan kritis bagaimana ia dididik dan diarahkan kepada pengenalan potensi diri. Setelah menyadari hakikat pendidikan maka kewajiban apa yang patut dilaksanakan untuk mendukungnya?

Darma yang kedua adalah penelitian. Penelitian sebagai metode menemukan kebenaran dengan berpikir kritis. Inti dari penelitian adalah kemampuan memecahkan masalah. Semakin kompleksnya permasalahan yang dialami dunia baik sosial maupun sains menjadi tantangan kaum intelektual untuk memecahkannya. Mahasiswa dituntut secara keilmuan untuk bisa memecahkan permasalahan-permasalahan baik saat ini maupun masa datang. Bagaimana realita penelitian di STIE DHARMA ISWARA MADIUN?

Darma ketiga adalah pengabdian kepada masyarakat. Masyarakat merupakan elemen pembentuk sebuah negara, disanalah berbagai permasalahan seringkali timbul. Dunia akademik dibangun bersumber dari masyarakat, oleh sebab itu arahan yang terpenting dalam pembangunan keilmuan adalah efek untuk masyarakat. Output mahasiswa adalah bagaimana ia bisa menerapkan pengetahuan dan skil yang dimiliki untuk pemberdayaan masyarakat. Ideologi nilaisme dan kerjaisme masih menjadi hal dominan yang dipahami mahasiswa ketika belajar di perguruan tinggi. Padahal hakikat belajar di perguruan tinggi bukan hanya sebuah nilai maupun mendapatkan pekerjaan yang dikehendaki, yang paling esensial adalah bagaimana pengetahuan yang didapat di bangku kuliah bisa diimplementasikan untuk mengatasi persoalan masyarakat.

0 komentar:

Posting Komentar

.

.
SELAMA 4 TAHUN BERTURUT-TURUT KAMPUS KITA BERPRESTASI DALAM "PKM" TINGKAT NASIONAL

MAHASISWA :

DOSEN :

 
Design by M.A.S